Perspektif Hubungan Internasional: Strukturalisme

28 01 2010

STRUKTURALISME

  1. Pendahuluan (Sejarah dan Perkembangan)

Strukturalisme atau yang juga dikenal dengan nama Neo-Marxisme, Marxisme Struktural, dan Marxisme Ilmiah[1] dalam Ilmu Hubungan Internasional merupakan suatu ajaran yang percaya akan bahwa struktur sistem internasional sangat ditentukan oleh tingkah laku individu antar negara dan ditujukan sebagai batasan atas pembuatan berbagai keputusan sebelum diputuskan oleh pemerintahan suatu negara. Di dalam pandangan ini terdapat aktor lain selain negara. Dalam hal pengambilan keputusan didasarkan pada isu-isu yang memiliki pengaruh lebih besar atau lebih kecil terhadap struktur[2]. Strukturalisme secara akademisi dimulai dari pendekatan ilmu budaya dan sosial yang berusaha untuk membuka pola-pola dan struktur yang tertutup dari elemen-elemen penting terhadap pola-pola tersebut yang telah dibangun[3].

Strukturalisme berakar pada pemikiran Karl Marx akhir atau Neo-Klasik yang banyak bernaung pada organisasi dibawah gerakan Kiri Baru (New Left)[4]. Terdapat dua unsur dalam pemikiran Marx yang sangat berpengaruh terhadap pendekatan ini. Pertama, ramalannya mengenai runtuhnya kapitalisme yang tidak terelakan. Kedua, etika humanis yang meyakini bahwa manusia pada hakikatnya baik, dan dalam keadaan tertentu yang menguntungkan akan dapat membebaskan diri dari lembaga-lembaga yang menindas, menghina dan menyesatkan[5].

Strukturalisme lahir dari pemikiran Marx dengan menempatkan keterkaitan antara ekonomi dengan politik sebagai elemen terpenting dalam melihat segala hal dalam hubungannya untuk mempengaruhi kehidupan sosial, budaya, dan politik itu sendiri dengan harapan untuk menciptakan keadilan bagi seluruh kelas. Terdapat tiga pokok dari ajaran Marx mengenai stukturalisme yaitu mengenai kelas-kelas sosial yang terbagi antara kaum borjuis (kaum pemilik modal) dan kaum proletar (kaum tertindas:buruh dan petani), mengenai model produksi (pengaturan perekonomian dan hubungan ekonomi) yang dimana membentuk dasar materi bagi masyarakat yang didasarkan pada produksi barang dan jasa manufaktur secara besar-besar sebagai prinsip utama Kapitalisme, dan teori nilai pekerja yang mengatakan bahwa upah buruh tidak sesuai dengan nilai barang yang diproduksi (menurut Marx nilai barang terbentuk oleh nilai guna, nilai tukar, dan nilai tambah).[6]

Strukturalisme dianggap sebagai kritikan terhadap realisme dan liberalisme dengan tujuan untuk menciptakan dunia yang lebih adil karena kelahiran kapitalisme telah menciptakan tatapan yang tidak adil, dan hubungan ekonomi global yang sekarang ini merupakan rancangan sedemikian rupa untuk menguntungkan kelas-kelas sosial tertentu sehingga menciptakan kelas-kelas sosial yang dimana dalam perspektif strukturalisme hal ini harus dihapuskan. Walaupun Strukturalisme dianggap sebagai kritikan terhadap realisme dan liberalisme, ketiga perspektif ini memiliki berbagai persamaan seperti kesamaan antara strukturalisme dengan realisme yaitu terdapatnya konflik, namun letak konfliknya berbeda dimana dalam realisme konflik diciptakan karena “conventional state to state” (bentrokan kepentingan antar negara), sedangkan dalam strukturalisme konflik diciptakan karena adanya perebutan sumber daya alam. Strukturalisme memiliki persamaan dengan liberalisme karena sama-sama mengakui adanya aktor non-negara, namun strukturalisme memandangan institusi internasional sebagai kaki-tangan kapitalisme[7].

2.   Tokoh dan Pemikirannya

  1. Henrique Fernando Cardoso dan Enzo Felatto – Teori Ketergantungan.

Berasal dari konsep Lenin mengenai imperialisme, berpendapat bahwa imperialisme masih hidup, namun dalam bentuk lain yaitu dominasi ekonomi negara-negara kaya terhadap negara-negara yang kurang maju. Pembangunan ekonomi negara-negara kurang maju erat kaitannya dengan kepentingan negara-negara maju, karena negara bekas jajahan dapat menyediakan sumber daya alam manusia dan sumber daya alam, dan juga negara kurang maju dapat menjadi pasar untuk hasil produksi negara maju, sedangkan produksi untuk ekspor sering ditentukan oleh negara maju. Teori ini berusaha untuk mengatakan bahwa negara-negara kurang maju secara terus-menerus akan mengalami kemiskinan karena pengaruh dari strategi ekonomi dan politik dari negara maju[8]. Objek kajian teori ketergantungan terutama adalah pengalaman negara-negara Amerika Latin yang mengalami kemiskinan dan keterbelakangan walaupun telah merdeka sejak awal abad XIX[9].

2. Immanuel Wallerstein – Teori Sistem Dunia.

Menurut teori ini kapitalisme telah menyebar ke seluruh dunia sehingga menciptakan negara pusat (core), negara semi pinggiran (semi pheri-pheri), dan negara pinggiran (pheri-pheri)[10]. Wallerstein memahami Teori Sistem Dunia sebagai perkembangan ekonomi kapitalis dunia yang saling bertautan, dimana tumbuh dalam bentuk modern pada abad ke XVI. Konsepsi Wallerstein tentang kapitalisme ditopang oleh gagasan mengenai ekspansi perdagangan internasional[11]. Teori ini berpendapat bahwa tidak meratanya pembangunan di dunia dan adanya pembagian dunia pertama dan ketiga merupakan penerapan fungsi dari sistem dunia yang kapitalis, bukan akibat dari ketertinggalan sejarah atau suatu masalah teknis[12].

3.  Point-Point Penting Strukturalisme

  1. Karakteristik Hubungan Internasional sangat dibentuk oleh struktur perekonomian dunia yang kapitalistik.
  2. Politik Internasional dibentuk atau ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi.
  3. Aktor utama dalam Hubungan Internasional adalah negara dan aktor non-negara.
  4. Negara lebih mencerminkan kepentingan kelas-kelas dominan daripada kepentingan nasional murni.
  5. Kapitalisme adalah suatu tatanan sosial dan ekonomi yang tidak adil sehingga menghasilkan konflik dan ketidakharmonisan.
  6. Kapitalisme ditandai dengan kontradiksi-kontradiksi internal dan merupakan sasaran bagi krisis periodik[13].

4. Kritikan Terhadap Strukturalisme

  1. Negara-negara yang lebih miskin mempunyai hanya sedikit kemungkinan untuk meningkatkan posisi mereka, seolah-olah menyepelekan perjuangan negara-negara tersebut untuk mengatasi tekanan dari dunia (tekanan dari dunia kapitalisme).
  2. Strukturalisme mampu untuk menjabarkan kejahatan kapitalisme internasional, namun tidak memiliki cara untuk mengubah tatanan tersebut.
  3. Segala sesuatu dijelaskan berdasarkan kelas sosial, sehingga mengesampingkan berbagai fenomena (perang, krisis ekonomi, kesenjangan, dan aspek-aspek indentitas: gender, etnisitas, dan identitas lainnya).
  4. Strukturalisme secara emplisit menyakatakan bahwa akhir dari sejarah adalah sosialisme (sesuai dengan tesis Karl Marx dalam Historical Materialism) yang merupakan suatu hal yang sangat jauh dari kenyataan karena tidak melihat dinamika perubahan sejarah dan sosial[14].

5.  Studi Kasus

03 Maret, 2009 – Published 20:33 GMT

Negara miskin perlu bantuan

IMF memperingatkan negara miskin semakin menderita karena krisis ekonomi dunia, kemungkinan memerlukan tambahan bantuan.

Dana Moneter Internasional, IMF mengeluarkan laporan baru yang menyatakan negara negara miskin lebih dipengaruhi krisis ekonomi dunia saat ini, dibandingkan masa lalu.

Mereka lebih terintegrasi ke dalam ekonomi internasional dibandingkan sebelumnya.

Pengaruhnya kemungkinan akan lebih kecil dirasakan karena berkurangnya perdagangan, penanaman modal asing dan dana yang dikirimkan penduduk yang bekerja di luar negeri.

Direktur IMF Dominique Strauss Kahn mengatakan negara negara pendonor perlu meningkatkan dukungan, bukannya mengurangi.

Dia mengatakan pada saat dimana mereka mengeluarkan ratusan milyar dolar bagi paket stimulus dan bantuan, seharusnya mereka lebih banyak memberikan bantuan kepada negara berpenghasilan rendah.

Strauss Kahn menambahkan krisis ini membawa pengaruh negatif kepada keuntungan yang baru didapat dengan susah payah pada pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, kemiskinan yang memburuk dan peningkatan stabiltas ekonomi.

Dia mengatakan IMF sudah meningkatkan bantuan bagi negara berpenghasilan rendah tahun lalu, dan sudah siap untuk memberikan bantuan tambahan. Tetapi jumlahnya masih rendah.

Tahun lalu pinjaman bagi negara negara tersebut berjumlah lima setengah milyar dolar.

IMF sudah menjanjikan bantuan yang lebih besar 45 milyar dolar kepada enam negara, sebagian besar negara berpenghasilan menengah, yang mengalami akibat langsung krisis ekonomi[15].

*****

Berdasarkan pemberitaan diatas mengenai adanya program pemberian bantuan dana (utang luar negeri) dari IMF kepada negara-negara miskin dan menghimbau negara-negara pemdonor untuk meningkatkan bantuannya sehubungan dengan dampak dari krisis global yang sedang terjadi saat ini. IMF menyebutkan bahwa negara-negara miskin pada saat ini telah terintegrasi dengan perekonomian internasional, dengan alasan inilah kemudian IMF menyerukan agar dunia internasional memberikan perhatian yang lebih besar terhadap negara-negara miskin, lebih banyak memberikan bantuan ekonomi dan finansial untuk mereka. Menurut IMF, dampak krisis global telah menghilangkan keuntungan yang diperoleh negara-negara berpendapatan rendah tersebut pada saat pertumbuhan ekonomi mereka lebih cepat, sehingga kemiskinan semakin bertambah sementara ekonomi tidak stabil.

IMF merupakan suatu alat kebijakan negara pusat kapitalisme yaitu Amerika Serikat dengan tujuan untuk memastikan keamanan dan mobilitas modal dengan tujuan akhir untuk menciptakan arus investasi yang baik, namun pada prakteknya IMF malah merusak pasar negara-negara miskin dengan menerapkan utang luar negeri tanpa menimbang efek-efek yang akan terjadi di negara-negara tersebut[16].

Melalui kacamata strukturalisme, fenomena diatas dianggap sebagai suatu jebakan yang dibuat oleh IMF agar negara-negara miskin tetap dalam cengkraman kapitalisme global meskipun posisi negara-negara kapitalis sedang terjerambat krisis[17]. Penarikan kesimpulan ini merupakan hal yang sesuai dengan pandangan strukturalisme yang menyatakan bahwa institusi internasional seperti layaknya IMF merupakan kepanjangan tangan dari kapitalisme.

Asumsi ini berdasar Teori Ketergantungan, yang menganggap ketergantungan sebagai gejala yang sangat umum ditemui pada negara-negara miskin, disebabkan faktor eksternal, lebih sebagai masalah ekonomi dan polarisasi regional ekonomi global (Barat dan Non-Barat,negara industri dan negara ketiga, atau utara-selatan), dan kondisi ketergantungan adalah anti pembangunan atau tak akan pernah melahirkan pembangunan dan tidak lebih merupakan bentuk imprialisme baru. Keterbelakangan adalah label untuk negara dengan kondisi teknologi dan ekonomi yang rendah diukur dari sistem standarisasi negara maju penganut kapitalisme.

Karakteristik struktur ekonomi internasional tersebut, memungkinkan negara yang memiliki power yang dominan untuk menciptakan aturan-aturan yang mengendalikan aktifitas-aktifitas ekonomi internasional dalam rangka memenuhi kepentingan-kepentingan yang dimilikinya. Sebagai akibatnya terciptalah pola hubungan yang bersifat asimetris di antara negara hegemon dengan negara lainnya yang berujung pada ketergantungan negara dunia ketiga kepada negara hegemon, baik itu dari segi ekonomi maupun politik, bahkan tidak jarang perubahan pada struktur domestik sebuah negara yang tergantung ditentukan oleh pola hubungan yang asimetris tersebut[18].

Disini IMF dianggap sebagai perwakilan dari kapitalisme yang hanya mewakili kepentingan negara-negara kaya dengan tujuan untuk terus memiskinkan negara-negara miskin dan memperkuat dominasi negara-negara kaya terhadap berbagai kepentingan negara-negara kaya tersebut. Bahaya dari Kapitalisme melalui IMF-nya telah beberapa dibuktikan oleh sejarah seperti krisis moneter yang melanda Indonesia 1997, krisis moneter Venezuela 1989, dan penyesuaian struktural IMF di Ethiopia yang menyebabkan 8 juta rakyatnya menderita kelaparan meskipun produksi pangan di negara tersebut mencapai 90% kebutuhannya dan di beberapa tempat di negeri tersebut malah terjadi surplus produksi pangan[19].

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama,  2008.

Elliott, P. Stephen dan Alan Isaacs. New Webster’s Universal Encyclopedia. New York : Bonanza Books, 1987.

Steans, Jill dan Llyod Pettiford. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009.

Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Weigall, David. International Relations: A Concise Companion. New York : Oxford University Press Inc, 2002.

Jurnal :

KAPITALISME&NEOLIBERALISME: Sebuah Tinjauan Singkat, karya Eko Prasetya, (Ekonomi Politik Journal Al-Manär Edisi I/2004).

Website :

http://www.scribd.com/doc/20849818/neo-marxis-n-pendekatan-kekuasaan?autodown=pdf

http://www.scribd.com/doc17676264/Strukturalis-Ringkasan-Perenungan-Dan-Analisis-Teori-Hubungan-Internasional-I

http://robinmandagie.blogspot.com/2009/05/critical-theory-asumsi-neomarxisme.html

http://jurnal-ekonomi.org/2006/09/09/imf-dan-bahaya-yang-ditimbulkannya/

http://internationalrelationstheory.googlepages.com/structuralism.htm

http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/jangan-tertipu-dengan-perhatian-imf-terhadap-negara-negara-miskin/

http://www.selamatkan-indonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=224&Itemid=2

http://andre.pinkynet.web.id/2009/03/31/marxisme-dan-teori-hubungan-internasional/

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/03/printable/090303_monetary.shtml

http://pengelanakecil.blogspot.com/2009/08/organisasi-internasional-dilihat-dari.html

http://prari007luck.wordpress.com/tag/neo-marxisme/


[1] Jill Steans dan Lloyd Pettiford, “Strukturalisme” dalam Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 151.

[2]David Weigall, “Structural Determinist” dalam International Relations: A Concise Companion, (New York: Oxford University Press Inc., 2002), hal. 214.

[3] Stephen P. Elliott dan Alan Isaacs, “Structuralism” dalam New Webster’s Universal Encyclopedia, (New York: Bonanza Books, 1987), hal. 940.

[4] Miriam Budiardjo, “Berbagai Pendekatan dalam Ilmu Politik” dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 85. Untuk bacaan lebih lanjut mengenai “Kiri Baru” lihat Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal. 363-381.

[5] Ibid.

[6] Jill Steans dan Lloyd Pettiford, Ibid., hal. 152-155.

[7] Hana Nurhasanah, “Strukturalisme”, Catatan Perkuliahan, (Jakarta: FISIP UNAS, 22 Oktober 2009)

[8] Miriam Budiardjo, Ibid., hal. 90-91.

[9] “Marxisme dan Teori Hubungan Internasional”, http://andre.pinkynet.web.id/2009/03/31/marxisme-dan-teori-hubungan-internasional/, diakses 20 November 2009.

[10] Hana Nurhasanah, Ibid.

[11] “Marxisme dan Teori Hubungan Internasional”, Ibid.

[12] Jill Steans dan Lloyd Pettiford, Ibid., hal. 172.

[13] Hana Nurhasanah, Ibid.

[14] Jill Steans dan Lloyd Pettiford, Ibid., hal. 203-205.

[15] “Negara Miskin Perlu Bantuan”, http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/03/printable/090303_monetary.shtml, diakses 22 November 2009.

[16] Eko Prasetyo, KAPITALISME&NEOLIBERALISME: Sebuah Tinjauan Singkat, (Ekonomi Politik Journal Al-Manär, 2004)

[17] “Jangan Tertipu dengan Perhatian IMF terhadap Negara-Negara Miskin”, http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/jangan-tertipu-dengan-perhatian-imf-terhadap-negara-negara-miskin/, diakses 22 November 2009.

[18] “Lawan ! Cengkraman Globalisasi-Neoliberalisme”, http://www.selamatkan-indonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=224&Itemid=2, diakses 22 November 2009.

[19] “IMF dan Bahaya yang Ditimbulkannya”, http://jurnal-ekonomi.org/2006/09/09/imf-dan-bahaya-yang-ditimbulkannya/, diakses 22 November 2009.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: