Akankah Turki Menjadi Anggota Tetap Uni Eropa?

18 12 2009

Runtuhnya kekaisaran Ottoman telah mengubah strategi politik Turki untuk lebih mendekatkan diri pada negara-negara Eropa (Barat) yang pada saat itu dianggap sebagai sebuah negara yang dapat menjamin kesejahteraan Turki di masa depan. Sejak bangkitnya gerakan Nasionalisme Turki dengan sekulerisme di segala bidang, Turki telah berupaya keras untuk dapat diterima sebagai anggota Uni Eropa, hal ini berlanjut pada Perang Dunia ke dua bahkan sampai Perang Dunia ke dua usai. Keinginan negara-negara Eropa untuk tidak bergantung pada bantuan asing telah merubah sistem internasional dari bipolar menjadi multipolar, perubahan tersebut tentu saja mempengaruhi hubungan Uni Eropa dan Turki, yang sudah dianggap tidak terlalu berguna pasca Perang Dunia ke dua.

Keinginan negara-negara Eropa untuk mandiri dan memajukan perekonomian negara-negara Eropa tersebutlah yang melatar belakangi terbentuknya Uni Eropa, hal ini ditandai dengan ditandatanganinya kerjasama Masyarakat Batu Bara dan Baja pada tahun 1951. Turki menyadari bahwa organisasi Uni Eropa tersebut sangat berguna bagi Turki untuk memajukan perekonomiannya, dan dapat dijadikan sebagai bukti bahwa Turki adalah negara Eropa (walaupun mempunyai identitas yang berbeda dengan negara-negara Eropa lainnya).

Turki telah memalukan segala macam upaya untuk dapat bergabung menjadi anggota tetap Uni Eropa. Lamaran yang diajukan Turki tidak pernah ditanggapi secara serius oleh Uni Eropa, Uni Eropa tidak pernah menolak secara tegas dan tidak pula langsung menerima Turki. Uni Eropa hanya memberikan janji-janji untuk segera menetapkan tanggal untuk menerima Turki dan memasukan Turki ke dalam daftar anggota yang paling potensial. Sejak status tersebut dikeluarkan pada 1987 hingga sekarang Turki belum mengalami kemajuan dimata Uni Eropa dan selalu menjadi kandidat dari setiap pertemuan Uni Eropa.

Kegagalan Turki untuk menjadi anggota tetap Uni Eropa memang patut dipertanyakan dan menjadi suatu pembahasan yang menarik. Selain karena Turki tidak mempu untuk memenuhi persyarakatan yang diajukan oleh Uni Eropa, ketidaksukaan Uni Eropa terhadap Turki juga menjadi salah satu faktor yang menghambat Turki untuk menjadi anggota tetap Uni Eropa.

Kondisi politik dan ekonomi Turki memang selalu menjadi alasan kuat Uni Eropa untuk selalu menolak keanggotaan Turki. Ekonomi Turki yang jauh berbeda dengan negara-negara Uni Eropa lainnya dikhawatirkan akan menjadi suatu masalah bagi Uni Eropa dan menjadi beban bagi Uni Eropa di masa yang akan datang. Sebagai negara anggota Uni Eropa (jika Turki diterima) maka Turki berhak mendapatkan bantuan perekonomian dari negara-negara Uni Eropa melalui Regional Polcicy-nya. Pertimbangan untung rugi menjadi faktor yang sangat mempengaruhi keputusan Uni Eropa menolak keanggotaan Turki.

Kondisi demokrasi Turki juga menjadi sorotan Uni Eropa, Turki dianggap belum mampu untuk menegakan demokratisasi di negaranya, hal ini ditandai dengan masih banyaknya pelanggaran HAM yang sering terjadi di negara tersebut. Kekuatan militer yang sangat dominan terhadap sipil di Turki dan metode militerisme yang kerap digunakan untuk menangani berbagai masalah yang terjadi di negara tersebut menjadi tolak ukur lemahnya demokrasi di Turki. Kedua alasan diatas menjadi hambatan utama dan selalu dikemukakan Uni Eropa untuk menolak keanggotaan Turki. Namun bukan berarti penolakan yang tidak hanya sekali tersebut diartikan bahwa Turki tidak melakukan perbaikan dalam kedua hal tersebut, namun sebaliknya Turki selalu melakukan perubahan sesuai yang diinginkan Uni Eropa. RUU pezinahan telah dibatalkan, siaran bahasa Kurdi mulai diperbolehkan di beberapa radio bahkan kaum sekuler Turki mengeluarkan pernyataan dan melarang istri kepala negara untuk menggunakan jilbab. Dalam hal militer masih kuat pengaruhnya, namun masih dapat dikontrol oleh kekuatan masyarakat madani. Turki telah melakukan segala cara untuk dapat menjadi anggota tetap Uni Eropa, bahkan Turki telah membuktikan dirinya menjadi satu-satunya negara Islam yang demokrasinya telah memasuki tahap yang relatif matang.

Selain hambatan yang selalu dikemukakan Uni Eropa untuk menolak keanggotaan Turki selama ini, penulis menganggap masih ada faktor lain yang lebih disebabkan ketidaksukaan Uni Eropa teradap Turki dan tidak pernah diakui secara resmi oleh lembaga Uni Eropa.

Pertama, alasan penolakan Uni Eropa berdasarkan perbedaan ekonomi, hal ini memang menjadi syarat untuk bergabung dengan Uni Eropa dapat diterima, tapi kendala hal tersebut tidak berlaku pada Yunani dan Portugal yang pada saat diterima menjadi anggota tetap Uni Eropa juga mempunyai masalah perekonomian yang hampir sama pada saat Turki mengajukan lamaran. Kedua, alasan mengenai lemahnya demokratisasi dan penegakan HAM di Turki memang sulit dibantah dan menjadi fokus Uni Eropa terhadap Turki. Namun sekali lagi penulis menanggap ada diskriminasi terhadap hal tersebut, hal ini ditunjukan dengan diterimanya Irlandia pada tahun 1972 dimana pada saat itu kondisi dalam negeri negara tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh keputusan gereja tidak lebih baik dari Turki. Hal ini sekali lagi membuktikan ketidaksukaan Uni Eropa terhadap Turki

Faktor lain yang menyebabkan Turki belum juga diterima menjadi anggota Uni Eropa adalah faktor sejarah, kebudayaan dan agama di Turki yang bertolak belakang dengan negara-negara Eropa pada umumnya. Turki memiliki latar belakang budaya yang cukup berbeda dengan negara-negara Eropa lainnya, sejarah Islam yang sangat kaya dan sangat penting yang menjadi suatu sejarah besar bagi perkembangan Islam di Eropa dan Timur tengah terumata pada zaman Kekaisaran Ottoman. Kekayaan sejarah Islam tersebut disatu pihak menjadi suatu kebanggaan yang sangat besar bagi Turki sebagai negara yang berhasil menyebarluaskan Islam ke hampir seluruh penjuru dunia, namun dilain pihak hal tersebut juga mempengaruhi cara pandang negara-negara Eropa bahkan keputusan Uni Eropa dalam hal penolakan Turki untuk menjadi anggota tetap Uni Eropa. Hambatan terbesar Turki bukanlah masalah perekonomian atau masalah demokratisasi yang lemah di negara tersebut. Faktor sentimen-sentimen menjadi suatu hal yang menyudutkan Turki sebagaimana yang ditunjukan oleh negara-negara Eropa lainnya, Turki dianggap tidak termasuk dalam Christian Community. Hal ini diperkuat dengan sejarah yang buruk antara Turki dan beberapa negara anggota Uni Eropa lainnya, seperti Inggris dan Yunani, dimana keduanya dapat saja menggunakan hak veto-nya untuk menolak keanggotaan Turki, sebagaimana yang pernah dilakukan Yunani pada Turki. Bahkan baru-baru ini Perancis dan Austria menjadi negara yang secara tegas menolak keangotaan Turki.

Sejak berdirinya negara republik Turki, Kemal Attaturk, yang pada saat itu menjadi Presiden pertama Turki memutuskan untuk berkiblat pada Barat khususnya masyarakat Eropa dan bergabung dengan NATO dengan bantuan Amerika Serikat yang mempunyai kepentingan terhadap Turki. Keputusan ini didukung oleh letak geografis Turki yang sangat strategis; dimana pada saat itu terdapat dua Blok (Barat dan Timur) yang sama-sama menginnginkan Turki bergabung bersama mereka.

Keinginan Turki untuk disejajarkan dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya dengan bergabung menjadi anggota tetap Uni Eropa memang mendapat suatu kesulitan, bahkan hal ini diperparah setelah Perang Dingin berakhir dimana fungsi dan posisi politik Turki bagi bangsa-bangsa Eropa anggota NATO sudah tidak lagi terlalu penting. Bubar dan berakhirnya Pakta Warsawa sebagai akibat kekalahan pihak Soviet dan sekutu, telah memandai bahwa fungsi utama Turki sebagai ujung tombak NATO telah berakhir pula.

Dengan banyaknya hambatan yang dihadapi Turki yang coba dihembuskan oleh Uni Eropa, tampaknya Turki harus menunda atau bahkan melupakan keinginannya untuk segera diterima menjadi anggota tetap Uni Eropa, butuh waktu yang sangat lama, 15-20 tahun, untuk Turki benar-benar menjadi anggota tetap Uni Eropa dan disejajarkan dengan negara-negara Eropa lainnya.


Aksi

Information

One response

23 04 2012
Adhi Wardana

saya juga sedang meneliti tentang turki, sebenarnya yang udah dilakuin turki bwat bergabung dengan uni eropa apa saja sih? adakah program2 yang sudah di lakukan turki buat bergabung UE? saya sangat berterima kasih sekali bila ada info2 yang terkait dengan upaya pemerintah turki bergabung dengan uni eropa, salam mahasiswa tingkat akhir. ym kho_ex@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: